SMP Negeri 1 Kopang menyampaikan kepada seluruh peserta didik, orang tua/wali siswa, serta masyarakat bahwa sekolah akan menambahkan mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Sasak sebagai salah satu mata pelajaran wajib bagi peserta didik jenjang SMP. Penambahan ini sejalan dengan semangat pelestarian budaya dan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Lomba dan juga dukungan terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Langkah ini didasarkan
pada Peraturan Bupati Kabupaten Lombok Tengah Nomor 76 Tahun 2024 tentang Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Sasak Sebagai Bahasa Daerah, yang menetapkan bahwa bahasa Sasak wajib dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal untuk tingkat pendidikan dasar, termasuk SMP kelas VII sampai IX. Perbup ini ditetapkan dan berlaku sejak 25 November 2024, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa serta sastra daerah agar tetap hidup dan berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman.
Bahasa Sasak merupakan bahasa mayoritas di Kabupaten Lombok Tengah, dengan keberagaman dialek yang tersebar di berbagai kecamatan. Menjadikannya mata pelajaran muatan lokal adalah langkah strategis dalam melestarikan warisan budaya tak benda serta memperkuat rasa identitas lokal di kalangan generasi muda.
Melalui pelajaran Mulok Bahasa Sasak, peserta didik akan mempelajari keterampilan berbahasa, kosakata, tata bahasa, budaya lisan, dan nilai-nilai kearifan lokal khas Suku Sasak. Pembelajaran ini turut bertujuan membentuk karakter siswa agar lebih menghargai keberagaman budaya dan bahasa daerah, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan berkomunikasi dalam konteks kultural Sasak.Kepala SMP Negeri 1 Kopang menyatakan bahwa penambahan mata pelajaran ini merupakan bentuk implementasi nyata sekolah terhadap kebijakan pendidikan daerah dan komitmen dalam mendukung pelestarian budaya. Sekolah juga akan menunjang proses pembelajaran dengan materi ajar dan strategi pengajaran yang interaktif, sehingga siswa dapat belajar Bahasa Sasak dengan menyenangkan dan efektif.
Dengan demikian, diharapkan Mulok Bahasa Sasak tidak hanya menjadi sekadar mata pelajaran formal, tetapi juga menjadi wadah yang mempererat kecintaan peserta didik terhadap budaya lokal dan menjadi modal bagi mereka dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompetitif tanpa kehilangan akar budaya.
